15 July 2012

Salafi bukan kelompok, tetapi manhaj.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم

Terdapat beberapa kawan2 yang masih memahami salaf dari kaedah yang tidak benar, mereka memahami bahawa salaf ini kelompok sama seperti wujudnya kelompok2 dakwah di Malaysia atau di negara lainnya.

Tidak, ia tidak benar. Salafi bukan kelompok. Salafi ialah satu manhaj, cara memahami dan kaedah beragama.

Salafi tidak mempunyai ketua. Siapa ketua salafi? tiada. Ia tidak sama seperti kelompok2 yang lainnya.

Manhaj salaf ialah manhaj yang mengikut cara beragama Nabi Muhammad Sallahualaihiwasallam dan para sahabat radhiallahuanhum ajmain.

Hadits Irbaad bin Saariyah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya : Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah pada Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) kerana hal-hal yang baru itu adalah kebid'ahan dan setiap kebid'ahan adalah kesesatan" [Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (4608), At-Tirmidziy (2676) dan Ibnu Majah ]

Jadi, untuk memahami manhaj salaf, tiada jalan lain, melainkan perlu menuntut ilmu dan istiqomah dengannya. Yakni istiqomah untuk terus berada di atas manhaj salaf yang mulia. Manhaj yang jauh dari bid'ah, penyimpangan2, dan jarum2 kekafiran.

Tidak sedikit masa yang diperlukan untuk memahami manhaj salaf. Tiada shortcut melainkan perlu kuat dan sabar mengahdapi tekanan-tekanan lainnya.

Berapa ramai yang merindui untuk bersama manhaj salaf, tetapi kerana halangan kawan-kawan dan kepentingan lainnya, mereka tersekat dalam menyatakan kebenaran.

Tiada apa yang perlu ditakutkan, kerana Allah menjamin jalan2 buat orang2 yang menginginkan kebenaran.

***semoga Allah membantu kita memilih manhaj salaf. Ya, manhaj salaf.
sila baca SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MEMILIKI MANHAJ ILMIYAH di link;

http://almanhaj.or.id/content/1052/slash/0


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al-Harraaniy dalam Majmu 'Fatawa 1/182 : Adapun sunnah para Khulafaur Rasyidin adalah sunnah yang mereka laksanakan dengan perintah dari beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga termasuk sunnahnya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka tidak ada dalam agama satu kewajibanpun kecuali yang telah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam wajibkan, tidak ada keharaman kecuali yang diharamkannya, tidak ada hal-hal yang sunnah kecuali yang disunnahkannya dan tidak ada kemakruhan kecuali yang dimakruhkannya serta tidak ada yang mubah kecuali yang telah dimubahkannya.


Zikri
Tasek Putra
15072012
Ramadhan Mubarak!


10 July 2012

Hayati Ramadhan (1)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم

Hal-hal yang dibolehkan ketika puasa

1. Mendapati waktu fajar dalam keadaan junub
2. Bersiwak(berus gigi) ketika berpuasa
3. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung asal tidak berlebihan
4. Bercumbu dan mencium isteri selama aman dari keluarnya mani
5. Bekam dan derma darah
6. Mencicipi makanan selama tidak masuk dalam kerongkongan
7. Bercelak dan tetes mata
8. Mandi dan menyiramkan air di kepala untuk membuat segar

Yang mendapat keringanan tidak berpuasa

1. Orang sakit ketika sulit berpuasa dan punya kewajiban mengqodho’ puasa nantinya.

2. Orang yang bersafar ketika sulit berpuasa dan punya kewajiban mengqodho’ puasa nantinya.

3. Orang yang sudah tua renta dan dalam keadaan lemah, juga orang sakit yang tidak kunjung sembuh. Dan jika tidak berpuasa, mereka wajib menunaikan fidyah sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al Baqarah: 184)

4. Wanita hamil dan menyusui. Dalam hadits Anas bin Malik disebutkan, “Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” (HR. An Nasai dan Ahmad. Hasan).

Al Jashshosh rahimahullah menjelaskan, “Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir. Para ulama tidak ada beda pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka tidak dibolehkan mengqoshor shalat. ... Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. ...

Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqodhonya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Dari sini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka berpuasa) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak merinci hal ini.” (Ahkamul Qur’an, 1: 224)

baca artikel penuh di;
http://remajaislam.com/islam-dasar/fiqih-remaja/205-fikih-puasa-ringkas.html

Hayati Ramadhan (Mukaddimah)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم

Sidang pembaca sekalian, alhamdulillah, sedikit masa lagi kita akan menempuh bulan yang mulia, bulan Ramadhan Al Mubarak.

Pada bulan ini, dijanjikan Allah dengan pelbagai ganjaran dan rahmah buat orang2 yang beriman dan bertakwa.

Insyaallah, pada kesempatan yang sangat terbatas ini, saya ingin berkongsi beberapa artikel terkait Ramadhan agar menjadi panduan kita semua sebagai bekal menyambut puasa tidak lama lagi.

Semoga Allah menerima amal kita semua.

Zikri
Perak
bakal Pelajar Master of Engineering (Electrical-Power) UTM Skudai



22 June 2012

Tabligh Akbar Nasional

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

Saya ingin mengajak seluruh pembaca blog ini untuk sama-sama mengikuti Tabligh Akbar Nasional di Jogjakarta, Indonesia. Sesiapa yang tidak berkesempatan untuk menempah tiket ke Indonesia, anda boleh dengar secara live di http://annashradio.com/

Beberapa syaikh akan menyampaikan untaian kata nasihat yang sangat berharga untuk para penuntut ilmu di Indonesia dan seluruh dunia amnya.

Semoga kita memanfaatkan kesemptan yang sangat berharga ini untuk menambah bekal untuk iman dan amal kita sebagai persiapan di akhirat kelak.




Tabligh Akbar Nasional 2012 (Jogjakarta)

Tema:
KEINDAHAN AGAMA ISLAM

Pembicara:
1.Asy Syaikh ‘Ubaid bin Abdillah al-Jabiri (Madinah)
2. Asy Syaikh ‘Abdullah bin Umar al-Mar’ie (Yaman)
3. Asy Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri (Kuwait)
4. Asy Syaikh Muhammad Ghalib al-’Umari (Madinah)
Waktu:
Sabtu-Ahad, 3-4 Sya’ban 1433H/23-24 Juni 2012M
Pukul 09.00 WIB-selesai
Tempat:
Masjid Agung Manunggal
Jl. Jend. Sudirman No.1 Bantul, DI. Yogyakarta
Kontak Informasi:
Kajian Umum: 0274-7453237
Kajian Asatidz: 081328022770
Informasi Umum: 085747566736
Diselenggarakan Oleh:
Panitia Dauroh Ilmiyah Nasional
Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Jl. Godean Km.5 Gg. Kenanga, Patran RT.01/01
Banyuraden, Gamping, Sleman, DI. Yogyakarta
LIVE! tabligh akbar ini dapat didengarkan di www.salafy.or.id

sumber maklumat;

19 June 2012

Hukum bekerja di syarikat riba'

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

HUKUM BEKERJA DI LEMBAGA RIBAWI SEPERTI MENJADI PEMANDU ATAU GUARD?
 
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (Ulama besar Arab Saudi)
 
Pertanyaan
 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah boleh hukumnya bekerja di lembaga ribawi seperti menjadi pemandu atau guard ?

Jawaban
 Tidak boleh hukumnya bekerja di lembaga-lembaga ribawi sekalipun menjadi pemandu atau guard sebab ketika dia bekerja di lembaga-lembaga ribawi, maka konsekwensi logisnya dia rela terhadapnya, karena orang yang mengingkari (menolak) sesuatu tidak mungkin bekerja untuk kepentingannya. Bila dia bekerja untuk kepentingannya, maka ketika itu dia sudah menjadi rela terhadapnya dan rela terhadap sesuatu yang diharamkan, berarti mendapatkan jatah dosa darinya juga.

Sedangkan orang yang secara langsung mencatat, menulis, mengirim, menyimpan dan semisalnya, maka tidak dapat disangkal lagi, telah turut secara langsung melakukan hal yang haram, padahal telah terdapat hadits yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya.

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakai riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau mengatakan, “Mereka itu sama saja ..”[Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Musaqah 1598]

[Majmu Durus Fatawa Al-Haramul Makkiy, Juz III, hal.369 dari fatwa Syaikh Ibn Utsaimin]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 6 Darul Haq]

artikel penuh di ;
http://almanhaj.or.id/content/1793/slash/0 

17 June 2012

Hukum Puasa di bulan Syaaban

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم

OLEH: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ditanya : Apakah hukumnya berpuasa pada bulan Sya’ban ?

Jawaban: Berpuasa pada bulan Sya’ban adalah sunah, memperbanyak puasa di bulan itu juga merupakan sunah sampai-sampai Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertutur:

“Aku tidak pernah melihat beliau (Nabi) berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban” [Diriwayatkan oleh Bukhari, Kitab Shaum, Bab Puasa Sya’ban 1969]

Sebaiknya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban menurut hadits ini.

Para ulama berkata: “Puasa di bulan Sya’ban sebagaimana sunat rawatib bagi lima shalat fardhu, seolah-olah dia mendahului puasa Ramadhan, maksudnya seakan-akan dia menjadi rawatibnya bulan Ramadhan. Karena itu sunnah puasa di bulan Sya’ban dan sunah puasa enam hari di bulan Syawal seperti rawatib sebelum shalat wajib dan sesudahnya.

Dalam puasa di bulan Sya’ban terdapat manfaat yang lain yakni mempersiapkan diri dan bersedia untuk berpuasa agar dirinya menjadi siap mengerjakan puasa Ramadhan, menjadi mudah baginya untuk menunaikannya.

Majmu Fatawa Arkanul Islam edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin

http://sunniy.wordpress.com | Menebar Ilmu & Tegakkan Sunnah

16 June 2012

Wanita boleh bekerja di luar rumah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan
Kita tidak menentang wanita bekerja di luar rumahnya, asalkan terikat dengan ketentuan-ketentuan syariat. Ketentuan-ketentuan itu adalah sebagai berikut:
1. Bahwa wanita itu, atau masyarakat memerlukan pekerjaan itu, di mana tidak ada lelaki yang dapat menangani pekerjaan itu.
2. Hendaknya ia melakukan pekerjaan itu setelah melaksanakan pekerjaanya di rumah yang merupakan tugas utamanya.
3. Hendaknya pekerjaan itu di lingkungan wanita, seperti mengajar wanita, mengobati dan merawat wanita. Dan hendaknya pekerjaan itu terpisah dari kaum lelaki.
4. Begitu pula tidak mengapa, bahkan wajib wanita menuntut ilmu tentang perihal agamanya. Dan tidak mengapa ia mengajarkan perihal agama yang dibutuhkan oleh sesama wanita. Namun proses belajar mengajar itu hendaknya dalam lingkup wanita. Dan tidak mengapa wanita menghadiri majlis taklim di masjid atau semacamnya dengan bertabir dan terpisah dari lelaki, sesuai dengan apa yang dilakukan wanita di awal sejarah Islam (di masa Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dan para shahabat Radhiallahu'anhum), di mana mereka bekerja, menuntut ilmu, dan mendatangi masjid.
[Dinukil dari kitab Tanbiihat 'ala Ahkam Takhtash bil Mukminat, Penulis Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, Edisi Indonesia Sentuhan Nilai Kefiqihan Untuk Wanita Beriman, Diterbitkan oleh Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta, hal. 11-12]


sumber: http://sunniy.wordpress.com | Menebar Ilmu & Tegakkan Sunnah